Mencari Kebenaran

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka”

QS Ali ‘Imran (Keluarga ‘Imran) 3:190-191

Saya akan sampaikan sekelumit kisah bagaimana Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam ketika merenung dan berpikir untuk mencari hakikat kebenaran.

Sepanjang bulan Ramadhan, setiap tahun Muhammad pergi ke Gua Hira dan berbeliaum di tempat itu, dengan hanya membawa sedikit bekal. Muhammad tekun dalam renungan dan ibadah. Jauh dari segala kesibukan hidup dan keributan manusia. Beliau mencari kebenaran dan hanya kebenaran semata. Demikian kuatnya Muhammad merenung mencari hakikat kebenaran hingga beliau lupa akan dirinya, lupa makan, lupa segala yang ada dalam hidupnya. Sebab, segala yang dilihatnya dalam kehidupan manusia sekitarnya, saat itu bukanlah suatu kebenaran. Di situ Muhammad mengungkapkan kesadaran batinnya, segala yang disadarinya.

Muhammad tidak berharap yang dicarinya itu akan terdapat dalam kisah lama orang-orang Quraisy atau dalam tulisan-tulisan pendeta, melainkan dalam alam sekitarnya. Dalam luasnya langit dan bintang-bintang, dalam bulan dan matahari, dalam padang pasir di kala panas membakar di bawah sinar matahari yang berkilauan. Atau di kala langit yang jernih dan indah, bermandikan cahaya bulan dan bintang yang lembut, atau dalam laut dan deburan ombak, dan dalam segala yang ada di balik itu, yang ada hubungannya dengan wujud ini, serta diliputi seluruh kesatuan wujud.

Dalam alam itulah Muhammad mencari “hakikat tertinggi”. Dalam usaha mencapai itu, yaitu saat­saat Muhammad menyendiri, jiwanya membumbung tinggi mencapai hubungan dengan alam semesta.

Muhammad tak memerlukan perenungan panjang untuk mengetahui apa yang dipraktikkan oleh masyarakatnya dalam soal-soal kehidupan, dan apa yang disajikan sebagai korban untuk tuhan-tuhan mereka itu. Dan itu tidak membawa kebenaran sama sekali.

Akan tetapi, di mana sesungguhnya kebenaran itu berada? Di sudut-sudut ketinggian alam semestakah? Dari lapisan-lapisan langitkah? Di kemilau taburan bintang yang manakah kebenaran bertahta? Adakah barangkali dalam senyum bintang yang berkelip, yang memancarkan cahaya, yang dari sana pula hujan diturunkan? Hingga karenanya, manusia dan semua makhluk yang ada di muka bumi ini hidup dan berkembang biak?

Tidak! Bintang-bintang itu tak lain adalah benda-benda langit seperti juga bumi yang kita huni. Apakah hidup yang kita alami kini dan esok pun akan berkesudahan? Apakah asal muasalnya dan dari mana sumbernya? Kebetulankah bumi ini dijadikan dan dijadikan pula kita di dalamnya? Bumi ataupun kehidupan ini, apakah konstan? Mungkinkah hanya kebetulan saja? Lalu, bagaimana dengan yang beliaulami manusia? Benarkah kebaikan atau keburukan datang atas kehendak manusia itu sendiri, ataukah itu telah dibawanya sejak lahir hingga tak kuasa ia memilih yang lain?

Masalah-masalah kejiwaan dan kerohanian itu, juga dipikirkan oleh Muhammad selama beliau mengasingkan diri dan bertekun dalam Gua Hira. Muhammad ingin melihat “kebenaran” itu, dan melihat “hidup” secara keseluruhan. Pemikiran tentang hal itu begitu merasuki jiwanya, memenuhi jantungnya, pribadinya, dan seluruh wujudnya. Siang dan malam, hal itu menderanya terus-menerus.

Bilamana bulan Ramadhan telah berlalu, beliau kembali kepada Khadijah (istrinya). Pengaruh pikiran yang masih membekas padanya itu membuat Khadijah selalu bertanya-tanya, karena dia pun ingin lega hatinya bila telah mengetahui bahwa Muhammad dalam keadaan sehat dan afiat.

Tahun berganti, kini tiba bulan Ramadhan. Muhammad kembali ke Gua Hira, untuk merenung dan merenung. Sedikit demi sedikit, Muhammad bertambah matang. Jiwanya pun semakin penuh. Setelah beberapa tahun lamanya, jiwa yang terbawa, hanyut oleh “kebenaran tertinggi” itu, akhirnya bertemu mimpi dalam tidurnya, mimpi hakiki yang memancarkan cahaya kebenaran yang selama ini beliau cari.  Beliau mendapat wahyu Surah Al-’Alaq ayat 1-5.

Dinukil dari buku “Rahasia Sukses Mem­bangun Kecerdasan Emosi & Spiritual (ESQ)” karya DR (HC) Ary Ginanjar Agustian

Comments are closed