Mendidik Anak dan Sukses Berbisnis itu Tidak Sulit

Nurhayati Subakat, Founder Kosmetika Halal “Wardah”

Cantik dan menawan. Dua hal yang membuat para wanita berupaya untuk terus merawat karunia yang diberikan tuhan. Salah satunya adalah dengan menggunakan kosmetika. Namun, tidak semua kosmetika  memenuhi syarat kehalalan. sebagai Muslimah yang cerdas tentu harus berhati-hati dan mengerti betul kandungan atau bahan dasar kosmetik. Tidak sedikit kosmetika yang mengandung bahan berbahaya, belum lagi memenuhi syarat untuk terjamin kehalalannya.

Hal ini menjadi sangat penting karena jika bahan dasar yang digunakan masuk kategori haram, maka kecantikan tersebut tidak mendapatkan berkah.

Inilah dasar dari ide memproduksi kosmetika yang halal dan aman oleh Nurhayati Subakat. Dia secara khusus memperhatikan bagaimana kehalalan kosmetika sangat penting bagi wanita dan menciptakan rasa nyaman. Produk universal yang sangat cocok bagi Muslimah tersebut diberi nama Wardah.

“Ada ide dari salah satu pesantren untuk membuat produk untuk Muslim. Pada 1995, saya memproduksi kosmetika yang khusus untuk Muslim, yaitu Wardah yang artinya bunga mawar,” ucap Nurhayati kepada ESQ Life beberapa waktu silam.

Menurut Nurhayati, kesuksesan Wardah membuat banyak orang juga merasakan manfaatnya. Produksi yang besar, tentu memerlukan sumber daya manusia yang besar. Dengan kebutuhan itu Wardah secara langsung memberdayakan orang banyak.  Di sisi lain, dengan pendapatan yang banyak, infaq, dan shadaqoh secara otomatis dialirkan ke sesama Muslim yang membutuhkan.

“Saya mulai usaha sejak 1985. Saya pernah kerja di sebuah perusahaan kosmetika ternama dari luar negeri selama lima tahun. Kemudian saya mengundurkan diri karena letak kantor di daerah Bogor sangat jauh dengan rumah saya di Kebayoran, Jakarta. Hal ini juga karena saya ingin konsetrasi mengurus anak-anak,” kenangnya.

Kemudian, Nurhayati mengakui bahwa dia membuat usaha kecil-kecilan dengan mengeluarkan merek dagang “Putri”. Yaitu produk perawatan rambut dan dijual ke salon-salon. Menurutnya. tentu saja dalam usaha ada naik turunnya. “Saya pernah mengalami kebakaran pada tahun 1990, rumah dan usaha habis tidak bersisa. Saat itu saya sempat terpikir untuk tutup, kebetulan suami saya bekerja dan hasilnya sudah lebih dari cukup. Tapi saya melihat ke karyawan. Jika saya tutup, maka bagaimana dengan nasib mereka,” ucap wanita yang ramah ini.

Nurhayati mengucap syukur Alhamdulillah, karena dua hari kemudian dia bisa produksi kembali. Ada kenalan menawarkan tempat, suplayer juga percaya. Dia minta lima barang, malah dikasih sepuluh. Ini semua, terangnya, karena buah dari silaturahmi. Sekitar enam bulan sejak kebakaran, dia sudah bisa membangun pabrik di Tangerang.

“Kalau saya memiliki prinsip, yaitu 5P. Product, promotion, place, prize, dan power atau perlindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. P yang terakhir ini berpengaruh lebih dari 50 persen.
Kelebihan dunia usaha ya di sana. Kenapa saya terjun ke dunia usaha karena salah satunya itu. Dulu pergi ke pabrik setelah mengantar anak-anak sekolah, lalu saya usahakan pulang sebelum mereka pulang,” terangnya.

Sebetulnya, lanjut Nurhayati, para Ibu bisa mengatur anak dan juga usaha. Asal bisa mengatur waktu. Sehingga, menurut dia, tidak ada alasan Ibu-ibu sibuk mengurus anak. Baginya, waktu yang ada dimanfaatkannya untuk usaha.

Dari segi mendidik putra-putrinya, Nurhayati menerapkan cara tersendiri. Dia bersama sang suami memberi nasihat dengan memberikan contoh. Karena, menurut dia, tindak-tanduk orang tua yang akan diikuti oleh anak-anak. “Yang saya tekankan kepada anak-anak pertama kali adalah kejujuran. Kita juga harus selalu mendoakan anak. Kalau dilihat, hidup saya ini banyak terbantu doa. Doa orang tua, doa kita sendiri, ataupun doa anak,” tuturnya kemudian tersenyum.

Selain mendidik putra-putri dengan memberi contoh, Nurhayati bersama sang suami menanamkan sikap kesederhanaan. “Meski perusahaan kami sudah besar, tapi kami ingatkan anak-anak agar tidak mendidik cucu saya sebagai orang besar. Karena kami melihat perusahaan-perusahaan besar hancur di generasi kedua atau ketiga, karena sikap tidak sederhana dan serakah. Hancurnya Indonesia juga karena serakah. Kami juga mengajarkan kepada anak-anak agar tidak memiliki sifat sombong meskipun usaha yang mereka jalankan sukses. Demikian juga ke cucu-cucu,” bebernya. (ave)

Comments are closed