Mengatasi Kebosanan dalam Bekerja

Assalamu’alaikum wr wb.

“Pak Adib, sering kali saya merasa bosan punya pencapaian hidup yang gitu-gitu aja. Dan merasa bosan tidak dihargai orang lain, karena prestasi biasa-biasa saja. Terkadang muncul pertanyaan pada diri sendiri “I really want to.. but how? i just can’t help myself.” Saya ingin mempunyai pencapaian yang luar biasa sehingga orang lain bangga terhadap saya. Bagaimana caranya saya bisa melakukan terobosan terhadap diri?”

Fajar, Depok.

jawaban :

Terima kasih pertanyaannya, Mas Fajar. Bagus sekali pertanyaannya. Memang setiap orang pasti ingin maju dan dihargai orang lain. Pertanyaannya adalah bagaimana supaya diri kita bisa maju? Selain itu bagaimana supaya diri kita bisa dihargai orang lain. Memang motivasi manusia menurut psikolog Amerika Julian Rotter (1916-2014) dibagi menjadi dua, yaitu seseorang yang memiliki motivasi internal (locus of control internal) dan juga motivasi eksternal atau (locus of control external). Motivasi internal merupakan individu yang meyakini bahwa perubahan kehidupan yang dialaminya tergantung faktor internal dan usaha dirinya. Berbeda dengan seseorang yang memiliki locus of control external, di mana dirinya menganggap bahwa nasib dan kesuksesannya ditentukan oleh keadaan di luar dirinya.

Bagaimana supaya menjalani kehidupan tidak membosankan. Tentunya tiap orang berbeda-beda supaya tidak mengalami kebosanan. Jika merasa bosan, maka seseorang perlu memiliki tujuan yang ingin dicapai. Yang ingin dicapai seseorang mahasiswa adalah lulus kuliah. Seseorang yang baru saja bekerja kemudian berjuang untuk menikah, maka yang bersangkutan ada yang diperjuangkan yaitu ingin menikah. Jika seseorang memiliki hal yang diperjuangkan, maka hidup tidak membosankan. Begitu juga jika seseorang staf  bekerja ingin mencapai target. Jika disertai usaha keras, maka target akan tercapai. Seseorang yang sudah mencapai target, maka akan merasa puas dengan apa yang ingin dicapai. Begitu juga seseorang yang ingin memiliki anak, ingin memiliki rumah, ingin naik Haji atau Umroh. Jika keinginan tersebut diperjuangkan, maka akan membuatnya semangat dan tidak merasa bosan.

Agar seseorang tidak bosan, selain memiliki tujuan yang ingin dicapai, perlu memahami dirinya, perlu merasa tidak mudah puas, dan berani mengambil resiko, serta jangan merasa nyaman dengan keadaan yang dialami saat ini. Bagaimana cara memahami dirinya? Penting seseorang mengetahui posisi dirinya. Seseorang yang memahami dirinya, perlu mengetahui bagaimana kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya. Bagaimana latar belakang pendidikan yang dimiliki, latar belakang sekolah yang dimiliki, dan juga apakah ada gap antara kenyataan dan harapan yang dimiliki olehnya, sehingga akan berpengaruh pada perasaan bosan. Kemampuan akan mempengaruhi apa yang didapatkan. Namun, jangan merasa mampu padahal sebenarnya tidak mampu. Kadangkala seseorang memahami orang lain dan merasa dirinya juga mampu padahal menurut penilaian orang lain bahwa dia kurang mampu.

Oleh sebab itu cobalah jujur pada diri sendiri terhadap kemampuan yang dimilikinya. Jangan merasa lebih mampu dibandingkan orang lain padahal tidak. Latar belakang pendidikan juga bisa digunakan untuk mengukur bagaimana posisi dirinya dimata teman kuliahnya. Misalnya jika temannya telah sukses berpindah kerja di tempat kerja yang lebih baik, maka pelajari apa yang membuat teman sukses. Jika dulu memang temannya lebih pintar, wajar kemudian dia lebih sukses. Namun, jika Anda merasa lebih pintar tidak ada salahnya untuk belajar dari kesuksesan orang lain. Latar belakang keluarga tentunya juga mempengaruhi pAndangan seseorang. Kerja sama dengan saudara kandung, maka juga akan membuat seseorang tidak merasa bosan. Ada keinginan untuk maju, maka membuat seseorang untuk berusaha dan tidak mudah bosan.

* Baca artikel selengkapnya di majalah ESQ Life edisi Februari 2017

Comments are closed