Pemuda : Penggerak Perubahan

Tak bisa dipungkiri, pemuda adalah aset bangsa dan salah satu agen perubahan. Banyak sekali kutipan dari berbagai tokoh, dari pendiri al-Ikhwanul Muslimun Hassan Al-Banna hingga Presiden Sukarno, tentang betapa pentingnya peran dan kaum muda yang rata-rata masih segar dalam hal pemikiran, tenaga, dan idealisme. Bahkan, menurut sosiolog Ignas Kleden, pemuda dalam hal ini mahasiswa, adalah salah satu pilar demokrasi dan penjaga kebebasan selain pers, rohaniawan, dan kaum intelektual.

Berikut adalah film-film yang bertemakan perubahan yang dilakukan para pemuda :

Gie (Riri Riza, 2004, 127 menit)
“Lebih baik diasingkan daripada menjadi pengkhianat”. Demikian salah satu kutipan Soe Hok Gie yang terkenal. Sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana mengadaptasi Catatan Harian Seorang Demonstran, salah satu tokoh intelektual 1966 dan menggarisbawahi idealismenya sebagai seorang pemikir, penulis, dan pencinta alam yang jujur dan tegas. Walaupun beraliran “kiri”, sepak terjang adik dari Arif Budiman ini layak diteladani oleh banyak pihak. Misalnya, semangatnya dan konsistensinya mengkritik, walau pun itu adalah teman-teman seperjuangannya. Pada saat itu, banyak teman-temannya yang, setelah keberhasilan perjuangan, justru melahirkan rezim baru. Atau, betapa rajinnya dia mencatat banyak peristiwa dan kejadian dalam diarinya, dan juga menulis ke berbagai media massa.

Djakarta 1966 (Arifin C Noer, 1982, 127 menit).
Arifin C Noer adalah sosok kontroversi karena filmnya, Pengkhianatan G30S/PKI. Tapi dia punya film lainnya yang juga seputar tragedi 1965, dan jarang dibahas orang. Ditulis bersama sastrawan Bur Rusuanto, Arifin mennghadirkan perjuangan para demonstrasi yang tergabung dalam KAMI dan KAPPI, yang menyuarakan Tritura: bubarkan PKI, rombak kabinet, dan turunkan harga. Film ini mengisahkan secara kronologis proses dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), yang kemudian menjadi wacana karena keberadaannya hingga kini masih misterius itu. Film ini sudah ada VCD-nya dan bisa diakses di Sine­matek Indonesia.

9808: Antologi 10 Tahun Reformasi Indonesia (2008)
Proyek omnibus ini tidak secara spesifik membahas tentang gerakan mahasiswa 1998. Ini adalah kumpulan film pendek dengan berbagai pendekatan, yang sebagian besar tokoh utamanya adalah para pemuda, yang merefleksikan 10 tahun Reformasi. Para sutradaranya juga dari beragam latar belakang, dari dokumenter, video musik, hingga eksperimen. Favorit saya, di antaranya, adalah Sugiharti Halim karya Ariani Darmawan yang dengan kritis dan jenaka menyindir perkara diskriminasi kaum Tionghoa, khususnya soal pergantian nama.

Sementara Ucu Agustin via Yang Belum Usai, mengangkat para orang tua yang anak-anaknya hilang secara misterius. Sementara itu, Steve Pillar Setiabudi membuat dokumenter Sekolah Kami, Hidup Kami yang mengisahkan anak-anak sekolah yang menjadi demonstran dan dengan berani membongkar praktik KKN di sekolahya. Ada juga Wisnu Kucing yang melakukan “video selfie” dengan membuat biografi dirinya sendiri yang seorang aktivis 1998.

Sokola Rimba (Riri Riza, 2013, 90 menit)
Satu lagi sosok Kartini modern di era pasca-Reformasi. Inilah kisah perjuangan Butet Manurung yang mengajarkan baca-tulis dan berhitung kepada anak-anak masyarakat Suku Anak Dalam, yang dikenal sebagai Orang Rimba, yang tinggal di hulu sungai Makekal di hutan bukit Duabelas.

Suatu hari, dia diselamatkan oleh anak dari suku lain, Nyungsang Bungo. Hal ini membuatnya berpikir untuk memperluas wilayah mengajarnya ke suku asal Bungo, yaitu di Hilir sungai Makekal, 7 jam perjalanan dari tempatnya sekarang. Namun, dia mendapatkan tantangan dari desa Bungo, yang berpendapat bahwa belajar calistung bisa mendatangkan bencana bagi mereka.

(Ekky Imanjaya, Pengamat film, Dosen Binus School of Film, Kandidat Doktor di University of East Anglia, Inggris)

Comments are closed