Penyakit Apakah Guillance Barre Syndrome?

Salah satu masalah kesehatan yang jarang sekali diketahui oleh banyak orang saat ini adalah penyakit GBS (Guillance Barre Syndrome). Penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang mulai banyak dialami oleh penduduk Indonesia, namun berbanding terbalik dengan minimnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap penyakit ini.

Bahkan dari hasil survey kunjungan ke beberapa rumah sakit, perawat dan pegawai rumah sakit masih belum mengetahui apa itu GBS. Apalagi masyarakat umum, padahal penyakit ini sangat berbahaya dampaknya yakni kelumpuhan permanen, kerusakan saraf, hingga membuat penderitanya meninggal.

Guillian Barre itu penyakit yang menyerang saraf tepi, penyebabnya sampai sekarang dianggapnya sebagai penyakit auto-imun, artinya sel tubuh menyerang ke tubuh sendiri,” ungkap Harman Dhani, dokter spesialis saraf di Rumah Sakit Hermina Arcamanik.

Harman mengatakan bahwa gejala awal dari GBS adalah merasa kesemutan selama seminggu, penurunan fungsi bicara, pasiennya jadi susah melihat atau pandangannya jadi double. Selain itu, penyebab GBS adalah daya tahan tubuh menurun dan kuman jadi berkumpul, kemudian menyerang sel.

Diagnosis untuk mengetahui bahwa seseorang menderita penyakit GBS atau tidak harus melakukan test EMG (eletromyografi), test kecepatan hantar saraf, pengambilan cairan otak dari tulang belakang, dan tindakan itu hanya bisa dilakukan setelah pasien itu mengalami gejala GBS selama 3 minggu.

Yang dirasakan pasien GBS adalah awalnya merasa kesemutan, kebal, kemudian lama kelamaan lumpuh. Makanya bila pasien GBS mulai mengalami kelumpuhan seperti itu harus dilakukan fisioterapi dini untuk pelenturan sendi dan mencegah komplikasi kulit dan paru-paru. Dan dia juga harus ditangani oleh dokter lainnya yaitu dokter penyakit dalam, ahli sendi, dan dokter rehabilitasi medis, karena komplikasinya bisa terkena di semua system. Penderita bisa terkena masalah kulit, paru-paru, sendi, masalah bicara, penglihatan, dan lain-lain.

Apabila sudah tervonis GBS, tindakan dokter hanya bersifat supportif yaitu seperti memerhatikan cairannya, memerhatikan nutrisinya, dan memerhatikan tanda-tanda vitalnya, seperti pernapasannya.

Pengobatan untuk pasien GBS harus selalu berjalan. Ada 2 pengobatan spesifik yaitu pemberian cairan yang sifatnya modulasi daya tahan tubuh yang disebut IVIG (Intra Venas Imuno Globulin) dan yang kedua adalah penggantian plasma atau plasma veresis.

“Masa recovery pasien GBS adalah tergantung kondisi pertama penanganan pasien tersebut oleh dokter. Bila terdeteksi dari awal ada gejala GBS dan cepat mendapat penanganan, akan lebih cepat penyembuhannya. Sebaliknya, bila pasien datang dengan kondisi gradasi GBS yang sudah berat, akan lama pula masa recovery-nya, bisa bertahun-tahun,” katanya.

“Kesempatan pasien GBS untuk kembali normal 100% sulit. Bilapun sembuh akan masih ada gejala sisa dari kerusakan saraf yang berpotensi mengurangi kondisinya dari semula,” tambahnya.

Tips untuk menghindari GBS adalah seperti hidup sehat. Yaitu disiplin tidur, makan cukup dan sehat dengan jadwal teratur, olah raga rutin, serta hindari stres fisik dan mental. Dengan begitu, menurut dokter Harman, daya tahan tubuh kita akan terjaga. (tin/san)

Comments are closed