Raja Puyuh dari Boyolali

Cerita soal Boyolali lebih sering berupa cerita tentang sapi perah, yang memang menjadi simbol daerah ini. Bertahun-tahun, sejak zaman orde baru, Boyolali dikenal sebagai sentra penghasil susu di pulau Jawa. Pernah di suatu masa, sungai-sungai yang melintasi daerah ini dialiri oleh ribuan liter susu yang tidak laku terjual.

Tapi cerita kali ini adalah cerita tentang buah keprihatinan seorang sarjana peternakan mengenai nasib peternak puyuh yang sulit sejahtera. Ketersediaan DOQ sering tersendat, harga pakan yang lebih sering dipermainkan oleh para pedagang, serta harga telur yang kerap dipermainkan tengkulak.  Posisi peternak mirip daging di antara dua potong roti pada hamburger.  Cuma enak jadi ‘santapan’.

Hidup prihatin sejak masih di bangku sekolah menengah, mulai dari berjualan panganan lokal keliling, hingga menjadi pengepul kertas bekas.  Aktivitas itu terus dijalaninya hingga selesai kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Jogyakarta.  Dan saat usai kuliah itulah, pergumulannya dengan kaum peternak pinggiran dimulai.

Bekerja sebagai tenaga penjual dari sebuah perusahaan pakan ternak, Itmamul Khuluq, merasakan denyut nadi peternak gurem.  Dengan kepemilikan ternak puyuh kurang dari seribu ekor, kesejahteraan peternak terlalu sulit untuk diangkat.  Cara pemasaran telur puyuh melalui tengkulak, membuat peternak sulit untuk mendapatkan harga yang bagus guna meningkatkan skala usahanya.  Bahkan, untuk mempertahankannya pun, teramat sulit.  Satu per satu peternak gulung tikar.

Dengan ilmu yang dimilikinya sebagai sarjana peternakan, Khuluq memulai membentuk kelompok kecil di desanya. Di sana dia mulai meningkatkan kapasitas dan pengetahuan peternak.  Sarana produksi dibeli secara berkelompok, sehingga bisa diperoleh harga yang lebih ekonomis.  Hasil produksi dikumpulkan di kelompok dan dijual dengan harga yang disepakati bersama.

Awalnya, hal ini bukanlah hal yang mudah.  Bagaimana mungkin seorang anak muda yang  belum punya apa-apa, malah ingin meningkatkan kesejahteraan peternak?  Resistensi dari para peternak cukup tinggi, mengingat mereka sudah sering ‘dimanfaatkan’ berbagai pihak, yang ujung-ujungnya merugikan.

* Baca artikel selengkapnya di majalah ESQ Life edisi Februari 2017

Comments are closed