Sebab-sebab Durhaka Istri Kepada Suami

Dalam kehidupan berumah tangga, para wanita harus memperhatikan hal-hal yang sangat penting sebagai seorang istri. Hal ini tentu agar tidak terjerumus dalam kondisi yang merugikan baik di dunia dan akhirat. Berikut adalah hal-hal yang harus dihindari agar terjauhkan dari kedurhakaan terhadap suami :

1. Nusyuz

Adalah sikap membangkang, tidak patuh dan tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak ridha pada kedudukan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah tetapkan untuknya.

Nusyus memiliki beberapa bentuk, di antaranya adalah:

– Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.

– Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan pria lain.

– Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah

– Lalai dalam melayani suami

– Mubazir dan menghambur-hamburkan uang pada yang bukan tempatnya

– Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknya

– Keluar rumah tanpa izin suami

– Menyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.

Seorang istri shalihah akan senantiasa menempatkan ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada Allah, karena tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dia akan taat kapan pun, dalam situasi apapun, senang maupun susah, lapang maupun sempit, suka ataupun duka. Ketaatan istri seperti ini sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan cinta dan memelihara kesetiaan suami.

Seorang wanita diharamkan melakukan nusyuz kepada suaminya. Allah Ta’ala telah menetapkan beberapa hukuman bagi seorang wanita yang berbuat nusyuz kepada suaminya:

Allah Ta’ala berfirman,

“… Wanita-wanita yang kamu khawatirkan berbuat nusyuz, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Qs. An-Nisaa’: 34)

2. Tidak menyukai keluarga suami

Terkadang seorang istri menginginkan agar seluruh perhatian dan kasih sayang sang suami hanya tercurah pada dirinya.

Tak boleh sedikit pun waktu dan perhatian diberikan kepada selainnya. Termasuk juga kepada orang tua suami. Padahal, di satu sisi, suami harus berbakti dan memuliakan orang tuanya, terlebih Ibunya.

3. Menuntut keluarga yang ideal dan sempurna

Sebelum menikah, seorang wanita membayangkan pernikahan yang begitu indah, kehidupan yang sangat romantis sebagaimana dia baca dalam novel maupun saksikan dalam sinetron-sinetron.

Dia sebelumnya hany memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah pernikahan. Kelelahan yang sangat, masalah keuangan, dan segudang problematika di dalam sebuah keluarga luput dari gambarannya. Dia hanya membayangkan yang indah-indah dan enak-enak dalam sebuah perkawinan. Akhirnya, ketika dia harus menghadapi semua itu, dia tidak siap.

Dia kurang bisa menerima keadaan, hal ini terjadi berlarut-larut. Dia selalu saja menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan gambaran ideal yang senantiasa dia impikan sejak muda.

4. Tidak menjaga Aurat atau penampilan

Terkadang, seorang istri berhias, berdandan, dan mengenakan pakaian yang indah hanya ketika dia keluar rumah, ketika hendak bepergian, menghadiri undangan, ke kantor, mengunjungi saudara maupun teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan, atau ketika ada acara lainnya di luar rumah.

Keadaan ini sungguh berbalik ketika di depan suaminya. Dia tidak peduli dengan tubuhnya yang kotor, cukup hanya mengenakan pakaian seadanya. Terkadang kotor, lusuh, dan berbau, rambutnya kusut masai, dia juga hanya mencukupkan dengan aroma dapur yang menyengat.

Semestinya, berhiasnya dia lebih ditujukan kepada suami. Janganlah keindahan yang telah dianugerahkan oleh Allah diberikan kepada orang lain, padahal suaminya di rumah lebih berhak untuk itu.

5. Kurang berterima kasih

Tidak jarang, seorang suami tidak mampu memenuhi keinginan sang istri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa yang dia harapkan.

Dia tidak puas dengan apa yang diberikan suami, meskipun suaminya sudah berusaha secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan keinginan-keinginan istrinya.

Istri kurang, bahkan tidak memiliki rasa terima kasih kepada suaminya. Dia tidak bersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepadanya lewat suaminya. Dia senantiasa merasa sempit dan kekurangan. Sifat qona’ah dan ridho terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya sangat jauh dari dirinya.

* Baca artikel selengkapnya di majalah ESQ Life edisi Februari 2017

Comments are closed