Sebelum Peluit Berbunyi

Menjelang liga kompetisi, di pinggir lapangan rumput yang hijau ada seorang pemain berkata, “Yang penting kita ini ikhlas kepada takdir, dan tawakkal  saja pada hasil. Karena semua sudah ada suratannya, jadi kita santai saja”.

Pemain ini tidak mau membahas strategi dan tidak mau berlari-lari mengejar bola. Dia lebih banyak menunggu bola, lalu berkata, “Saya  tunggu takdir kapan bola akan mampir ke kakiku”

Lalu tiba-tiba peluit berbunyi dan mereka teringgal 11-0. Barulah tersadar bahwa mereka kalah.

Coba lihatlah di sekitar kita. Beginilah kebanyakan yang terjadi, “kalah sebelum bertanding, pasrah sebelum bertarung”. Akibatnya kekalah di mana-mana. Kalah di semua sektor. Kalah di segala sisi. Khususnya kalah dalam ekonomi dan kalah di dunia yang penuh persaingan.
Kalah dalam “fastabiqul khoirot”.

Sekarang kita baru tersadar. Kita baru terbangun dari tidur. Tapi semua sudah dimiliki dan sudah dikuasai orang lain. Kita hanya mayoritas dari sisi jumlah. Tapi minoritas dari sisi politik dan ekonomi. Kata Nabi, “lemah seperti buih di samudra”.

Ibarat dalam sebuah pertandingan sepak bola, kita baru sadar dan terbangun bahwa kita telah kebobolan 11- 0.

Jika kita ingin mengubah nasib kita harus mengubah cara. Karena jika masih terus melakukan hal yang sama, kita tidak mungkin menghasilkan hasil yang berbeda.

Mari kita tengok perjuangan Siti Hajar. Dia berlari-lari seraya berusaha. Bukan diam, diam, dan diam seraya berpasrah.

Bukan juga berlari sekali lalu berhenti. Tapi harus tujuh kali tiada henti.  Ingat, Shafa-Marwah itu syiar Allah.

Ingat bahwa iman pada takdir terletak di no. 6 dalam urutan Rukun Iman, bukan di nomor satu. Kita mesti berubah. Perubahan yang utama bukan karena kesempatan dan peluang usaha, serta adanya sarana dan prasarana, tapi “perubahan pada jiwa manusia”. Karena Allah telah menggariskan ini, bahwa, “Tidak berubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah jiwa mereka sendiri”.

Sisa waktu pertandingan sepak bola masih ada, dan peluit belum berbunyi. Masih ada sisa waktu meskipun tinggal sedikit saja….

Dengar kata muazin “Ayo  meraih kemenangan”, bukan menunggu nasib sampai dikalahkan.
Hayya alassholah !
Hayya alal fallah !

Rawe-rawe rantas malang-malang putung !
Rambate rata hayo !

Februari 2017,
Ary Ginanjar Agustian

Comments are closed