Universalitas Potensi Spiritual

Telah banyak bukti empiris bangkitnya era spiritual dalam bisnis. Di bawah kepemimpinan William W. George, Medtronic Inc., membuktikan bahwa spiritualitas adalah energi utama penggerak institusi bisnis meraih sukses.

Bill George mengajarkan bahwa Medtronic bukanlah bisnis untuk memaksimalisasi nilai pemegang saham, melainkan nilai pasien (pemakai alat­alat medis buatan perusahaan itu). Kekayaan (keuntungan finansial) diyakini sebagai hasil alamiah dari pelayanan total kepada konsumen, yakni pasien.

Sebetulnya, semua kisah sukses para pebisnis global yang saya ulas menyiratkan suatu pola yang sama, yakni teraktualisasinya kekuatan atau kecerdasan spiritual para pemimpin bisnis. Ada suatu karakter standar universal yang berlaku di muka bumi tentang syarat kesuksesan, seperti jujur, adil, tanggung jawab, terbuka, dan kepedulian sosial.

Sifat­sifat di atas biasanya bertengger di dinding-dinding kantor perusahaan, kartu bisnis, company profile, pidato­pidato pimpinan, dan sebagainya. Para pemimpin perusahaan berusaha memiliki karyawan dengan sifat jujur, bertanggung jawab, loyal, dan seterusnya.

Saya ingin menegaskan kembali hal mendasar yang sering saya kemukakan, bahwa spiritualitas dalam hal ini tidak dipandang sebagai praktik­praktik menjalankan ritual ibadah dalam agama. Spiritualitas yang saya maksudkan adalah suatu potensi built-in dalam setiap pribadi manusia, apapun agama dan keyakinan religiusitasnya.

Dari kisah­kisah yang saya ungkapkan, ada satu kesamaan lain, yakni bahwa para pebisnis sukses sadar tentang pentingnya mengasah potensi itu. Yang membedakan adalah cara bagaimana mengasah potensi itu agar betul-betul teraktualisasikan.

Para pemimpin bisnis sukses dari India, seperti Narayana Murthy (Infosys Technologies), G. Narayana (Excel Industries), atau Sunil Mittal (Grup Bharti), biasa mengasah kecerdasan spiritual mereka melalui pelafalan mantra, meditasi, dan yoga.

* Baca artikel selengkapnya di majalah ESQ Life edisi Februari 2017

Comments are closed